Pertama Kali Menjadi Pembina Upacara di Hari Kesaktian Pancasila

1 Oktober 2026 menjadi pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Untuk pertama kalinya, saya mendapat tugas menjadi pembina upacara di BBPOM Banjarbaru dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Malam Sebelum Upacara, Ternyata Tegang Juga πŸ˜„

Ada pengalaman yang mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi ternyata cukup membuat saya tegang.

Tanggal 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, saya mendapat tugas untuk menjadi pembina upacara di kantor BBPOM Banjarbaru.

Dan jujur saja, malam sebelum pelaksanaan upacara, saya tegang bukan main. πŸ˜„

Bukan karena materinya sulit. Amanat yang harus saya sampaikan juga sebenarnya sudah jelas. Saya hanya berpikir, β€œBesok benar-benar harus berdiri di depan semua pegawai dan menyampaikan amanat sebagai pembina upacara.”

Ada rasa gugup tersendiri ketika biasanya saya lebih sering berdiri sebagai pemateri dalam sebuah kegiatan, kemudian kali ini harus mengambil posisi sebagai pembina upacara.

1 Oktober 2026, Hari Kesaktian Pancasila

Pagi itu, seluruh pegawai BBPOM Banjarbaru mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Kondisinya saat itu sedang kabut asap, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk tetap mengikuti upacara.

Ketika mendapat kesempatan menyampaikan amanat, saya membuka dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pegawai yang tetap hadir dan mengikuti upacara.

Setelah itu, saya menyampaikan beberapa pesan dan arahan dari Ibu Kepala Balai Besar POM di Banjarbaru.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian, terutama karena tanggal 1 Oktober sekaligus menandai berakhirnya Triwulan III tahun 2026 dan dimulainya Triwulan IV.

Memasuki Triwulan IV, Saatnya Melihat Kembali Capaian Kinerja

Hal pertama yang disampaikan berkaitan dengan SKP Triwulan III.

Periode Triwulan III sudah selesai, sehingga seluruh pegawai diminta segera menyiapkan data dukung dan mengajukan penilaian SKP sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan.

Dokumentasi kinerja juga menjadi bagian penting agar seluruh pelaksanaan pekerjaan dapat tercatat dan dinilai tepat waktu.

Selanjutnya, setiap pegawai juga perlu melihat kembali capaian kinerja sampai dengan Triwulan III.

Jika masih terdapat indikator yang belum mencapai target atau progresnya masih rendah, kendalanya perlu segera diidentifikasi sehingga dapat dilakukan langkah percepatan.

Realisasi Anggaran dan Kegiatan yang Belum Selesai

Hal lain yang menjadi perhatian adalah realisasi anggaran.

Memasuki periode akhir tahun, setiap tim kerja perlu memastikan kegiatan yang sudah direncanakan dapat segera dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan.

Target realisasi anggaran yang disampaikan adalah 99,99%.

Selain itu, kegiatan yang masih tertunda atau belum terlaksana perlu segera dipetakan dan dibuatkan langkah percepatannya.

Setiap tim kerja diarahkan untuk menyusun rencana pelaksanaan percepatan kegiatan, termasuk rencana pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggarannya.

Apabila terdapat kendala, jangan menunggu sampai mendekati akhir tahun. Kendala tersebut perlu segera dikomunikasikan agar dapat dicarikan penyelesaiannya.

Jangan Sampai Pekerjaan Menumpuk di Akhir Tahun

Salah satu pesan yang menurut saya cukup penting adalah jangan sampai pekerjaan menumpuk di akhir tahun.

Setiap pekerjaan perlu diselesaikan satu per satu sesuai prioritas, dengan tetap menjaga kualitas pelaksanaan dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Bagi saya, pesan ini bukan hanya berkaitan dengan pekerjaan administrasi atau target kinerja. Ada pengingat sederhana di dalamnya bahwa pekerjaan yang sudah direncanakan memang sebaiknya mulai diselesaikan sejak awal, bukan menunggu sampai batas waktu semakin dekat.

Pengalaman Baru yang Cukup Berkesan

Setelah upacara selesai, saya merasa lega. πŸ˜„

Ternyata rasa tegang yang saya rasakan sejak malam sebelumnya tidak seburuk yang saya bayangkan.

Ini menjadi pengalaman baru bagi saya di BBPOM Banjarbaru. Selama ini saya lebih sering mendapat tugas untuk menyampaikan materi dalam berbagai kegiatan, tetapi kali ini saya belajar pengalaman yang berbeda sebagai pembina upacara.

Mungkin bagi sebagian orang menjadi pembina upacara adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya, kesempatan pertama ini cukup berkesan dan menjadi salah satu pengalaman yang ingin saya simpan dalam perjalanan pekerjaan saya.

Apalagi, tugas tersebut berlangsung tepat pada 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila.

Dari pengalaman kecil ini saya kembali belajar bahwa terkadang hal yang membuat kita tegang sebelum menjalaninya, justru menjadi pengalaman yang menyenangkan setelah berhasil dilewati.

Dan ya… ternyata menjadi pembina upacara untuk pertama kalinya memang bikin deg-degan. πŸ˜„


Tentang Leny Syanjaya